Cetak 37 Lay Rescuer, ITSK RS dr. Soepraoen Perkuat Kesiapsiagaan di Wisata Gunung Rinjani

Basic First Aid for Lay Rescuer: Penguatan Kesiapsiagaan Kegawatdaruratan Berbasis Community Health Tourism

Oleh : Ns. Bayu Budi Laksono, S.Kep., M.Kep. ITSK RS dr. Soepraoen Malang

Sembalun, Lombok Timur — Aktivitas wisata alam dan pendakian gunung tidak hanya menawarkan pengalaman petualangan, tetapi juga memiliki risiko kegawatdaruratan yang membutuhkan respons cepat dan tepat. Kondisi medan yang sulit, perubahan cuaca, trauma fisik, gigitan hewan, hingga gangguan kesehatan akibat ketinggian menjadi tantangan yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Dalam situasi seperti ini, keberadaan masyarakat, pendaki, porter, dan komunitas lokal yang memiliki kemampuan pertolongan pertama menjadi bagian penting dalam membangun wisata yang lebih aman.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Basic First Aid for Lay Rescuer: Penguatan Kesiapsiagaan Kegawatdaruratan Berbasis Community Health Tourism” dilaksanakan pada 10–11 Agustus 2026 di Rinjani Camping Ground, Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi pengabdian masyarakat dan Upaya memfasilitasi kebutuhan komunitas peduli Gunung Rinjani “Rinjani Bagus”. Pengabdian ini sejalan dan berdampingan dengan Program Kesiapsiagaan Bencana Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur. Sebanyak 37 peserta mengikuti kegiatan, terdiri atas anggota komunitas pencinta alam Rinjani Bagus, pendaki, dan porter Gunung Rinjani.

Pelatihan melibatkan tim pengabdi lintas institusi, yaitu Dr. Ns. Arief Wahyudi Jadmiko, S.Kep., M.Kep., M.Pd.Ked. dari UPN Veteran Jakarta; Ns. Bayu Budi Laksono, S.Kep., M.Kep. dari ITSK RS dr. Soepraoen Malang; Ns. Antoni Eka Fajar Maulana, S.Kep., M.Kep. dari STIKES Mataram Lombok; serta tim Emergency Link Indonesia Lombok, Nusa Tenggara Barat. Program tersebut juga mendapat dukungan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur dan dihadiri secara langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur, Ns. Lalu Aries Fahrozi, S.Kep., M.Kep.

 Dari Pertolongan Dasar hingga Kegawatdaruratan di Ketinggian

Berbeda dengan pelatihan pertolongan pertama yang hanya berfokus pada kondisi kegawatdaruratan umum, materi dalam kegiatan ini disesuaikan dengan karakteristik lingkungan wisata dan pendakian gunung. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk orang awam, bleeding control atau penanganan perdarahan, serta teknik evakuasi. Materi tersebut diberikan oleh tim Emergency Link Indonesia dengan orientasi pada kemampuan yang dapat digunakan oleh masyarakat awam ketika menjadi orang pertama yang menemukan korban.

Aspek kesehatan di dataran tinggi juga menjadi perhatian penting. Ns. Bayu Budi Laksono, S.Kep., M.Kep. dari ITSK RS dr. Soepraoen Malang  menyampaikan pentingnya pengenalan dini dan penanganan awal High Altitude Sickness dengan pembahasan meliputi Acute Mountain Sickness (AMS), High Altitude Cerebral Edema (HACE), dan High Altitude Pulmonary Edema (HAPE). Ketiga kondisi tersebut penting dikenali dalam aktivitas pendakian karena gangguan kesehatan di ketinggian dapat berkembang menjadi kondisi serius apabila tanda dan gejalanya terlambat diketahui. Melalui pelatihan ini, peserta tidak diarahkan untuk menggantikan tenaga kesehatan, melainkan dibekali kemampuan untuk mengenali kondisi berbahaya, memberikan respons awal yang sesuai, dan memahami pentingnya proses evakuasi.

Selain itu, peserta memperoleh materi mengenai animal bite and extreme climate, yang berkaitan dengan risiko gigitan hewan serta paparan kondisi lingkungan ekstrem yang disampaikan oleh Ns. Antoni Eka Fajar Maulana, S.Kep., M.Kep. dari STIKES Mataram Lombok. Materi tersebut semakin menegaskan bahwa kesiapsiagaan di kawasan wisata alam membutuhkan pemahaman yang lebih luas daripada sekadar kemampuan memberikan pertolongan pada luka.

Masyarakat Bukan Sekadar Penonton dalam Situasi Darurat

Salah satu gagasan penting yang dibawa melalui program ini adalah konsep community health tourism. Pendekatan tersebut menempatkan kesehatan dan keselamatan sebagai bagian dari pengembangan lingkungan wisata dengan melibatkan masyarakat dan komunitas yang berinteraksi langsung dengan wisatawan. Pada kawasan pendakian, porter, pendaki, pengelola, serta komunitas lokal dapat menjadi kelompok yang berada paling dekat ketika suatu kejadian darurat muncul. Karena itu, kemampuan dasar dalam mengenali kegawatdaruratan dan memberikan pertolongan awal menjadi modal penting sebelum bantuan profesional tersedia.

Kebutuhan tersebut bukan tanpa alasan. Resume kegiatan mencatat adanya kebutuhan mitra terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama dalam kondisi pendakian, terutama karena risiko trauma fisik hingga kejadian kematian akibat kondisi ekstrem di jalur pendakian merupakan persoalan nyata yang perlu diantisipasi. Melalui pendekatan ini, kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab fasilitas kesehatan atau tenaga medis. Masyarakat dapat mengambil peran sebagai lay rescuer atau penolong awam yang mampu melakukan tindakan awal sesuai kapasitas dan kompetensinya. Penekanan akan pentingnya keterampilan ini disampaikan oleh Dr. Ns. Arief Wahyudi Jadmiko, S.Kep., M.Kep., M.Pd.Ked. dari UPN Veteran Jakarta.

Tidak Hanya Mendengar, Peserta Juga Diuji Keterampilannya

Pelatihan dirancang dengan komunikasi dua arah dan melibatkan peserta secara aktif. Selain penyampaian materi, dilakukan pretest dan posttest untuk mengevaluasi perubahan pengetahuan peserta. Peserta juga menjalani skill test Bantuan Hidup Dasar, sehingga evaluasi tidak berhenti pada pemahaman teori. Antusiasme peserta menjadi salah satu catatan selama kegiatan berlangsung. Hasil evaluasi yang tercantum dalam resume kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan setelah pelatihan. Resume tersebut menyebut peningkatan pengetahuan peserta sebagai peningkatan yang signifikan, meskipun data statistik rinci tidak dicantumkan dalam ringkasan kegiatan.

Lebih dari 70 persen peserta tercatat mampu menyelesaikan rangkaian pelatihan dengan baik dan memperoleh sertifikat berupa kartu BLS Provider dari Emergency Link Indonesia. Peserta juga menunjukkan keinginan agar program serupa dikembangkan lebih lanjut dengan materi yang semakin disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan. Capaian tersebut menjadi penting karena tujuan pelatihan pertolongan pertama bukan sekadar menambah informasi, tetapi membangun kesiapan seseorang untuk bertindak secara benar ketika menghadapi kondisi darurat.

 Menuju Ekosistem Wisata yang Lebih Siaga

Pelatihan Basic First Aid di Sembalun menunjukkan bahwa pengembangan destinasi wisata dapat berjalan berdampingan dengan upaya peningkatan kapasitas kesehatan masyarakat. Wisata yang berkualitas bukan hanya ditentukan oleh keindahan destinasi dan jumlah kunjungan, tetapi juga oleh kesiapan lingkungan dalam menghadapi risiko yang mungkin dialami wisatawan. Karena itu, pelatihan lay rescuer berpotensi menjadi bagian penting dalam pengembangan kawasan wisata alam, khususnya pada destinasi yang memiliki medan dan risiko kesehatan khusus seperti kawasan pegunungan.

Program ini juga tidak berhenti setelah kegiatan pelatihan selesai. Tim merencanakan tindak lanjut berupa pelaporan kepada institusi, evaluasi internal, koordinasi lintas sektor terutama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur, serta penguatan sinergi untuk pengembangan dan peningkatan skala kegiatan pada masa mendatang.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi kegawatdaruratan, pemerintah daerah, komunitas, porter, dan pendaki menjadi modal penting untuk membentuk ekosistem wisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga lebih sehat dan tanggap terhadap kondisi darurat. Pada akhirnya, konsep wisata aman tidak cukup diwujudkan hanya dengan menyediakan fasilitas. Di baliknya diperlukan masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan keberanian untuk melakukan tindakan awal secara tepat.

Melalui Basic First Aid for Lay Rescuer, masyarakat di sekitar kawasan wisata didorong bukan untuk mengambil alih peran tenaga kesehatan, melainkan menjadi mata rantai awal dalam sistem pertolongan. Ketika kondisi darurat terjadi di tempat dan waktu yang tidak dapat diprediksi, kemampuan sederhana untuk mengenali bahaya, meminta bantuan, memberikan pertolongan pertama, dan melakukan evakuasi secara tepat dapat menjadi bagian penting dalam upaya menyelamatkan nyawa. Sembalun pun tidak hanya dapat dikenal sebagai pintu menuju keindahan Gunung Rinjani, tetapi juga dapat terus berkembang sebagai kawasan wisata yang membangun budaya keselamatan, kesehatan, dan kesiapsiagaan bersama.

Pilih Program Study

Artikel Terkait