MALANG – Dua tim mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan (ITSK) RS dr. Soepraoen ikut bersaing dengan perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia dalam National Nursing Competition 2026. Kompetisi ini digelar Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) pada Sabtu (10/10/2026).
Kompetisi ini merupakan bagian dari rangkaian Annual Scientific Meeting of Emergency Nursing (ASMEN) ke-13 yang dipusatkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lomba berlangsung secara daring melalui Zoom pukul 08.00–20.00 WIB dan diikuti 19 tim dari berbagai program studi S1 Keperawatan di Indonesia.

Peserta harus melewati dua babak. Babak pertama menguji keterampilan Pre-Hospital Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) dan penggunaan Automated External Defibrillator (AED). Babak kedua berupa MEGACODE, yaitu simulasi penanganan pasien dalam kondisi kritis yang menuntut ketepatan algoritma, kecepatan mengambil keputusan klinis, dan koordinasi tim. Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang terdiri atas dokter spesialis emergensi dan perawat gawat darurat.
Dua Tim, Dua Angkatan

ITSK RS dr. Soepraoen menurunkan sepuluh mahasiswa yang dibagi ke dalam dua tim. Persiapan mereka didukung Korps Sukarela (KSR).
Tim 1 beranggotakan Mochamad Abel Tezya Pratama Yuansyah, Maulani Aprillia, Rifzika Qolbi Febriyanti, Villa Ananda, dan Anggun Cintaku.
Tim 2 beranggotakan Afriza Uma Syaifudin, Arum Nafari Nabila, Julieta Prastiwi, A’dha Ayuningtiyas Widiastuti, dan Kurnia Rahma Wati. Seluruh anggotanya merupakan mahasiswa angkatan 2025, sehingga mereka sudah merasakan kompetisi tingkat nasional sejak tahun pertama kuliah.
Dari Ruang Kelas ke Situasi Kritis
Bagi mahasiswa keperawatan, CPR dan penggunaan AED adalah keterampilan yang bisa menentukan keselamatan nyawa seseorang. Lewat format simulasi yang dinilai secara ketat, kompetisi ini menguji sejauh mana teori yang dipelajari di kelas bisa diterapkan di bawah tekanan waktu.
Keikutsertaan ini sejalan dengan komitmen ITSK RS dr. Soepraoen untuk menyeimbangkan penguasaan akademik dengan kesiapan klinis mahasiswa, terutama di bidang kegawatdaruratan dan kebencanaan yang semakin dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan saat ini.

