MALANG – Kecepatan dan ketepatan penanganan pada menit-menit pertama seringkali menjadi penentu keselamatan nyawa saat kondisi gawat darurat terjadi di tengah masyarakat. Berangkat dari kesadaran ini, kegiatan bertajuk “Penguatan Kapasitas Relawan Desa dalam Penanganan Kegawatdaruratan di Komunitas” sukses digelar pada Selasa, 20 Oktober 2026, di Balai Desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
Kegiatan yang berlangsung luring selama satu hari penuh ini diikuti oleh 18 peserta yang merupakan perangkat desa Pandanrejo dan Petungsewu, Kecamatan Wagir. Mereka dipersiapkan untuk menjadi garda terdepan atau first responder ketika terjadi kecelakaan maupun keadaan medis darurat di lingkungan sekitar, tepat pada rentang waktu krusial sebelum ambulans atau bantuan medis profesional tiba.

Dua pakar keperawatan dihadirkan secara khusus untuk membekali para relawan dengan keterampilan praktis dan aplikatif. Pemateri tersebut adalah Ns. Bayu Budi Laksono, M.Kep. dari ITSK RS dr. Soepraoen Malang, yang turun langsung memandu pelatihan bersama Ns. Bintari Ratih, M.Kep. dari Universitas Brawijaya Malang.
Materi difokuskan pada dua kemampuan pertolongan pertama yang paling esensial di lapangan. Pertama, Hands-Only CPR (Resusitasi Jantung Paru), yakni tindakan penekanan dada tanpa bantuan napas buatan untuk menjaga sirkulasi darah pada korban henti jantung. Ini merupakan keterampilan dasar yang bisa dilakukan oleh orang awam secara aman dan efektif. Kedua, teknik Balut Bidai dengan kombinasi metode fiksasi dan pembalutan yang tepat pada kasus cedera, patah tulang, atau luka fisik guna mencegah pergerakan yang dapat memperparah kondisi korban saat proses evakuasi.

Pelatihan ini tidak sekadar berisi paparan teori, namun lebih banyak diisi dengan demonstrasi dan simulasi langsung. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan sangat lancar dan penuh antusiasme dari para peserta. Hal ini dibuktikan oleh hasil evaluasi penyelenggara, di mana nilai pre-test dan post-test peserta menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Hasil tersebut menandakan adanya lonjakan pemahaman dan penguasaan teknik secara signifikan.
Melalui pembekalan yang komprehensif ini, Desa Pandanrejo dan Petungsewu kini memiliki perangkat desa yang lebih tanggap, kompeten, dan percaya diri. Peningkatan kapasitas ini menjadi langkah nyata dalam menciptakan komunitas yang mandiri dan berdaya dalam meminimalisir risiko fatalitas saat kegawatdaruratan terjadi di tengah masyarakat.

